Engkau Yang Ku Sebut Dalam Doa

 

                         

Ya Rabb… Rindu adalah fitrah yang Engkau berikan pada setiap hambaMu, dan aku tahu akan hal itu. Aku merindukannya ya Rabb… Tapi aku takut rindu ini melebihi rinduku kepadaMu, jika Kau izinkan aku memendamnya, maka biarkanlah rindu ini terus bersarang dibenakku, sampai akhinya Kau pertemukan aku dengannya. Aamiin…

“Tok..tok..tok..sayang sudah bangun?” Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Secepat mungkin aku beranjak berjalan menuju datangnya suara. Aku langsung bergegas membuka pintu dan terlihat senyuman hangat dari sang ibu.
“Ya bu Salsha sudah bangun,” jawabku.
Setelah melihatku, tanpa berkata sepatahpun ibu langsung bergegas meninggalkan kamarku.

Satu tahun yang lalu, aku resmi menjadi seorang sarjana muda dengan nilai yang cukup memuaskan, tapi sampai saat ini Aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang sesuai jurusanku. Entah karena Aku pemilih atau karena memang belum saatnya. Selama di bangku perkuliahan aku memiliki teman dekat, yang lima tahun selalau bersama. Dia teman yang Aku kenal seorang yang pintar, ramah, dan baik, dan semenjak kuliah sampai sudah jadi sarjanapun Aku tetap memiliki rasa kagum dengan dia, tetapi dia tidak pernah mengetahui itu.

Kami bertemu satu tahun yang lalu di saat wisuda.
Salsha Insyaallah kalau aku ada rezeki aku mau melanjutkan studi S2 ku ke Brunei Darussalam doain yah,” ucapnya di kala itu.
Dan aku pun turut bangga dengan semangat dia ingin melanjutkan studi S2 nya ke luar negeri, tetapi Aku sedikit merasa sedih karena pastinya aku sudah tidak pernah bertemu dengan dia sesering mungkin seperti biasanya.
Wahh bagus dong, Insyaallah aku akan doain kamu kok dan kamu selalu sukses dan lancar ya untuk melanjutkan studi S2 kamu di Brunei Darussalam Aminn.. tapi aku sedih karena kita sudah jarang bertemu nantinya,” jawabku.
Amin ya Allah, Salsha janganlah sedih kan kita masih bisa berkomunikasian, Insyaallah kita gak putus komunikasian ya dan kalau Aku sudah libur kuliah, Insyaallah aku akan pulang ke Indonesia untuk bertemu teman ku yang cantik ini,” ucapnya menghibur dengan nada lembut.

Pagi itu, Aku bergegas untuk menghantarkan dia (temanku) ke bandara berangkat menuju Brunei Darussalam, dan mungkin Aku terakhir untuk bertemu dengannya. Rasa sedih terus menghampiri, sebab Aku tak rela kami terpisahkan oleh negara yang awalnya tak pernah ku sangka.

Karena sudah kecanggihan alat komunikasi, seperti jarak tak pernah memisahkan kami. Ku genggam handphoneku, kucoba untuk video call dengan dia. Aku merasa senang ternyata dia tidak melupakanku. Selama ini, rinduku yang secara diam-diam selalu ku limpahkan melalui doa di dalam sujudku dan namanya selalu kusebut.
Seperti biasa, kami yang sudah terlalu dekat selalu bercerita tentang pengalaman dan lain-lain. Kali ini, dia bercerita kalau ternyata dia mengaggumi seorang wanita yang ada di Brunei Darussalam, dan Aku langsung terdiam terpaku, hatiku sudah tidak karuan, aku tidak tahu apa yang harus ku katakan lagi kepadanya, hanya rasa kesedihan yang aku rasakan dan sungguh pedih hati ini mendengar cerita yang ku dengar dari dia.
“Salsha kamu kenapa?” Ucapnya dengan heran.
“Hmm Aku gak papa,”  jawabku dengan gugup.

Aku tidak ingin menunjukkan rasa kesedihan dan rasa kecemburuanku kepadanya, Aku tetap akan tersenyum walau sebenarnya hati ini sangat sedih. Biarlah aku menyimpan rasa kesedihan ini, hanya Allah dan aku yang tau tentang perasaanku, aku senang mendengar kabar kalau dia baik baik saja  di sana, setidaknya doa ku akan tetap mengalir untuk dia dan aku tetap menyebut namanya di dalam doa ku walau dia menanti wanita lain.
Akhir-akhir ini, aku tidak berkomunikasi dengannya. Aku tau kesibukan dia di sana, pastinya kuliah tetapi harapku setidaknya dia kasi kabar seperti biasa. Semenjak ia tidak ada kabar, rindu ini semakin dalam, aku hanya bisa berdoa dari kejauhan kalau dia baik baik saja di sana, tetapi aku takut rasa rinduku ini melebihi rasa rindu kepada Rabb dan Rasulku. Aku di sini hanya bisa menantikan dia, di sini aku akan tetap memperbaiki diri dan melanjutkan cita-cita yang ingin ku capai.

Aku memperbaiki diri untuk Allah, dan untuk seseorang di masa depanku kelak, jika Allah berkehendak seseorang yang ku maksud ialah seseorang yang selalu aku sebut di dalam doaku, seseorang yang selama ini aku nanti-nantikan walau dia menantikan wanita lain. Hanya Allah menentukan semua, biarlah rasa rindu ini dan rasa kesedihan ini aku simpan di dalam benakku, Allah pasti tau apa yang kurasakan selama ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan Pembiasaan Pembelajaran Anak Usia Dini Dalam Masa Covid 19

Istiqomah Dalam Menulis

Perjalanan Panjang Tidak Menghalangi Menuntut Ilmu