Tantangan Pembiasaan Pembelajaran Anak Usia Dini Dalam Masa Covid 19
Materi-materi pembiasaan yang ditugaskan selama
pembelajaran di rumah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang selama ini
diterapkan di sekolah. Ada tiga tema dalam materi yang diberikan yaitu PHBS,
pendidikan karakter dan keagamaan. Materi PHBS misalnya praktek cuci tangan,
mandi, gosok gigi, membersihkan perlengkapan makan sendiri. Materi pendidikan
karakter misalnya membantu orang tua, berbicara sopan, mengucapkan terima
kasih, minta tolong. Sedangkan materi keagamaan contohnya wudhu, sholat,
membaca iqro, hafalan surat pendek, berdoa sebelum beraktivitas, dan
sebagainya. Materi materi tersebut sesuai dengan kurikulum yang saat ini
digunakan, yaitu kurikulum 2013.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran di
rumah dengan metode pembiasaan tidaklah semudah yang dibayangkan. Faktor
kurangnya semangat anak dan kurangnya kemampuan orang tua dalam mendampingi
anak menjadi tantangan dalam penerapan metode pembiasaan. ternyata tidak semua
orang tua bisa seperti guru di sekolah. Banyak orang tua tidak telaten, anak
biasanya malah dibentak-bentak yang juga efeknya kurang bagus. Mungkin karena
keadaan situasi dan kondisi, anak jadi kurang semangat di rumah sehingga jenuh,
tidak ada teman-teman, dan tidak ada yang memotivasi. Karena biasanya di
sekolah guru menyampaikan pembelajaran diselingi dengan seni, ada tepuk-tepuk,
bernyanyi, dan selingan berbagai kreativitas lainnya, sedangkan di rumah
cenderung monoton.
Tugas-tugas pembiasaan tersebut diberikan setiap hari
melalui Whatsapp Group dalam bentuk
teks instruksi, audio instruksi dan juga video contoh. Selanjutnya orang tua
akan mendampingi serta mendokumentasikan kegiatan tersebut dalam bentuk video
atau foto dan kemudian dikirimkan ke guru sebagai bahan pemantauan dan
penilaian
Tantangan lain dalam penerapan
pembelajaran pembiasaan di rumah adalah pola pikir dan motivasi orang tua.
Salah satu contohnya orang tua murid yang diwawancara menyatakan bahwa motivasi
menyekolahkan anak di PAUD selama ini lebih sekadar untuk menitipkan anak
ketika ditinggal bekerja. Sehingga, saat anak tidak bersekolah dan hanya
bermain di rumah, orang tua merasa bahwa ini adalah hal yang sudah seharusnya
bagi anak. Motivasi dan pola pikir seperti ini bisa menjadi salah satu penyebab
orang tua malas untuk mendampingi anak dalam mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan oleh guru.
Sementara, penilaian pada metode
pembiasaan adalah dengan teknik penilaian catatan anekdot, yaitu melakukan
pengamatan secara penuh kemudian mencatat seluruh fakta, menceritakan situasi
yang terjadi, menuliskan apa yang dilakukan anak dan apa yang dikatakan anak.
Catatan anekdot ini berfungsi sebagai jurnal kegiatan harian yang memungkinkan
untuk mengetahui perkembangan anak. Alhasil dengan adanya keterbatasan
pengamatan, bisa dipastikan pencatatan anekdot tidak akan berjalan maksimal.
Hal ini tentunya akan berpengaruh pada validitas penilaian yang dilakukan guru.
Kondisi pandemi memang berat untuk semua orang, terlebih
bagi orang tua karena beban pikiran dan tanggung jawab bertambah dengan
intensitas mendampingi anak dalam pembelajaran di rumah. Namun demikian penting
bagi orang tua untuk membuka diri, membuka wawasan dan semangat untuk belajar
bagaimana mendampingi anak dalam proses pembelajaran. Saatnya orang tua menyadari bahwa pembelajaran anak saat ini
kembali menjadi tanggung jawab orang tua sepenuhnya, kembali ke kodratnya bahwa
orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak.
Di sisi lain guru diharapkan
mampu menjaga komunikasi dua arah dengan orang tua dan anak didik secara
reguler. Diawali dengan memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi, kemudian
dilanjutkan dengan berbagi ilmu kiat-kiat mendidik anak sesuai metode
pembiasaan di PAUD. Guru harus membuka pintu lebar-lebar menjadi konsultan bagi
orang tua dan memupuk kepercayaan diri orang tua.
Dinas Pendidikan harus lebih berperan aktif memberikan
dukungan kepada guru dan orang tua murid. Mengambil langkah-langkah inovatif,
memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi serta mempertimbangkan
cara-cara yang lebih baik lagi, untuk memberikan pendidikan selama masa pandemi
ini belum berakhir.
Komentar
Posting Komentar